Dari Ruang Sunyi ke Ladang Jagung Nasional

KETAHANAN PANGAN109 Dilihat

Keterangan Foto:

AKBP Candra Kurnia Setiawan memimpin Analisa dan Evaluasi Harian di Ruang Monitoring Biro SDM Polda Sulsel. Kegiatan ini menjadi pusat kendali pengawasan program ketahanan pangan dan pengembangan jagung pakan menuju swasembada nasional 2026.


Laporan : Sabri
Editor : Alimuddin


Di Balik Anev Harian Polda Sulsel, Mengawal Ambisi Swasembada Pangan 2026

MAKASSAR – Di sebuah ruangan yang tampak biasa di Markas Polda Sulawesi Selatan, denyut besar ketahanan pangan nasional sedang dijaga. Tak ada suara mesin traktor, tak terdengar gemerisik daun jagung. Namun di sanalah, dari balik meja rapat dan layar pemantau, arah masa depan swasembada pangan 2026 ditentukan.

Ruang Monitoring Biro SDM Polda Sulsel menjadi pusat kendali. Setiap hari, data mengalir. Setiap jam, laporan diperiksa. Setiap angka, menentukan langkah berikutnya.

Inilah ruang sunyi tempat negara bekerja dalam diam.

Anev Harian: Ketika Ketahanan Pangan Tak Boleh Menunggu

Polda Sulsel memilih jalan yang tidak lazim: analisa dan evaluasi (anev) dilakukan setiap hari. Bukan mingguan, apalagi bulanan. Sebuah pendekatan yang mencerminkan keseriusan, sekaligus kesadaran bahwa ketahanan pangan tidak bisa ditangani setengah hati.

Melalui Biro SDM, seluruh Polres jajaran diwajibkan melaporkan progres program ketahanan pangan, khususnya jagung pakan, secara rutin dan terukur.

Mulai dari:

luas lahan tanam,

progres penanaman harian,

estimasi hasil panen,

serapan Bulog,

hingga dinamika harga jagung pipil di lapangan.

Tak luput pula berbagai kendala teknis yang dihadapi di daerah.

AKBP Candra: Mengawal Data, Menjaga Arah

Kabagbinkar Biro SDM Polda Sulsel, AKBP Candra Kurnia Setiawan, menjadi salah satu figur kunci dalam orkestrasi program ini. Sebagai Sekretaris Gugus Tugas Ketahanan Pangan Polda Sulsel, ia berada di titik strategis: menghubungkan data lapangan dengan kebijakan pimpinan.

“Kami lakukan anev setiap hari. Ini bukan sekadar laporan administratif, tetapi bentuk tanggung jawab kami terhadap target nasional,” ujarnya.

Menurutnya, ketahanan pangan tak cukup dicanangkan, ia harus dikawal. Setiap kendala yang muncul di daerah segera diidentifikasi, lalu dicarikan solusi sebelum menjadi masalah besar.

“Kami ingin tahu betul apa yang terjadi di lapangan. Karena dari sanalah kami bisa mengambil langkah mitigasi yang tepat,” tambahnya.

Dari Data ke Aksi Nyata

Tak berhenti pada laporan, seluruh hasil anev dirangkum dan dilaporkan berjenjang, mulai dari tingkat Polda hingga Mabes Polri. Pendekatan ini menjadikan Polda Sulsel tidak hanya sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai simpul pengendali kebijakan lapangan.

Hasilnya mulai terlihat.

Hingga kuartal pertama 2026, Polda Sulsel telah menyiapkan 3.728,593 hektare lahan untuk mendukung program swasembada pangan nasional. Angka yang tidak kecil, dan menjadi salah satu kontribusi signifikan di kawasan timur Indonesia.

Lebih dari Sekadar Program

Apa yang dilakukan Polda Sulsel bukan sekadar menjalankan instruksi pusat. Ini adalah upaya membangun sistem: dari perencanaan, pengawasan, hingga evaluasi berkelanjutan.

Di tengah fluktuasi harga pangan global dan ancaman krisis pangan dunia, langkah ini menjadi sinyal penting bahwa negara hadir, bahkan dari ruang yang jarang disorot kamera.

Ruang Monitoring itu mungkin sunyi.
Namun dari sanalah, masa depan pangan negeri disemai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *