Dari Mimbar ke Hati: Jumat Berkah yang Menjaga Nyala Kepedulian di Banyuasin III

BANSOS7 Dilihat

Keterangan Foto:
Pengurus IKM Banyuasin III menyampaikan khutbah dan melaksanakan rangkaian kegiatan Jumat Berkah di Masjid Nurul Ikhwan, Jumat (16/1/2026), sebagai bagian dari program sosial berkelanjutan.

PANGKALAN BALAI – Di bawah naungan mimbar kayu Masjid Nurul Ikhwan, suara khutbah mengalun pelan, menyusup ke relung hati jamaah. Jumat siang itu, 16 Januari 2026, bukan sekadar waktu menunaikan kewajiban. Ia menjelma menjadi ruang perjumpaan antara iman, kepedulian, dan keikhlasan.

Usai salat Jumat, langkah-langkah jamaah tak serta-merta meninggalkan masjid. Di sanalah, tradisi kebaikan kembali digelar. Program Jumat Berkah yang diinisiasi IKM Banyuasin III kembali menyapa warga, sederhana, senyap, namun penuh makna.

Sedekah yang Dijaga dengan Amanah

Ketua IKM Banyuasin III, H. Rahman, S.Kom., menuturkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

“Setiap bantuan adalah titipan. Bukan milik kami, tapi hak saudara-saudara yang membutuhkan,” ucapnya lirih, namun tegas.

Sejak dimulai pada 2025, Jumat Berkah terus dijaga agar berjalan transparan dan berkelanjutan. Bukan sekadar memberi, tetapi menanamkan nilai saling menguatkan di tengah kehidupan sosial yang kian individualistik.

Perempuan dan Ketulusan di Balik Layar

Peran Bundo Kanduang menjadi denyut yang menghidupkan kegiatan ini. Dengan tangan-tangan yang cekatan dan hati yang lapang, mereka menyiapkan serta menyalurkan bantuan kepada warga.

Tak ada sorotan kamera, tak ada tepuk tangan. Yang ada hanyalah keikhlasan, sebuah bentuk ibadah yang sunyi namun bernilai tinggi di hadapan Tuhan.

Menjaga Bara Kebaikan Menjelang Ramadhan

Ketua DPD IKM Banyuasin, H. Gusra Yetri, S.H., menegaskan bahwa Jumat Berkah adalah wajah sejati organisasi.

“Bukan soal besar kecilnya bantuan, tapi konsistensi dan ketulusan. Inilah yang ingin kami jaga,” ujarnya.

Menjelang Ramadhan, kegiatan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa berbagi bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan jalan untuk membersihkan hati dan memperkuat persaudaraan. (Zainal/Aris/Ibnu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *