Di Balik Otot yang Mengeras, Ada Silaturahmi yang Melunak: Catatan dari Arena Panco Assiteddekeng 2026

Olahraga16 Dilihat

Keterangan Gambar:

Jabat Erat Kemanusiaan: Seorang personel Kepolisian berdiri mendampingi, memberikan rasa aman saat semangat sportivitas terpancar dari wajah para atlet dalam Lomba Panco Assiteddekeng 2026 di Soppeng. Sebuah potret sinergi antara ketegasan menjaga ketertiban dan kehangatan dukungan terhadap bakat muda.

Oleh: Syukur Mariorante Katalawala

SOPPENG – Matahari di ufuk Kelurahan Lapajung baru saja melewati puncaknya. Di sebuah sudut di Hark Cafe, Jalan Malaka Raya, udara tak sekadar membawa aroma kopi, melainkan desah napas penuh tekad dan denting semangat yang membuncah. Sabtu, 2 Mei 2026, bukan sekadar hari biasa; bagi 31 pria bertangan baja, ini adalah tentang pembuktian bahwa kekuatan fisik hanyalah titipan, namun persaudaraan adalah keabadian.

Lomba Panco Assiteddekeng 2026 resmi digelar. Sebuah tajuk yang diambil dari kearifan lokal, “Assiteddekeng”, yang berarti saling menguatkan atau bersandar satu sama lain. Sejatinya, di atas meja kecil itu, bukan permusuhan yang dipadu, melainkan sebuah dialektika kekuatan yang dibalut dalam bingkai ukhuwah.

Lengan yang Bertarung, Hati yang Menyatu

Satu per satu atlet dari Sidrap, Bone, Wajo, Parepare, hingga tuan rumah Soppeng maju ke gelanggang. Di kelas berat, Zul dari Kabupaten Bone menunjukkan keperkasaannya dengan meraih posisi puncak, disusul oleh Risaldi, Suardi, dan Ikbal. Sementara di kelas ringan, Andi Aco keluar sebagai yang tercepat merubuhkan pertahanan lawan, dibuntuti oleh Indra, Gandi, dan Jey. Namun, jika kita melihat lebih dalam dari sekadar otot biseps yang mengeras atau urat leher yang menegang, ada pemandangan yang lebih indah: sebuah pelukan hangat setelah pertandingan usai.

Lengan boleh bertarung, tapi hati tetap menyatu,” begitulah pesan tersirat yang menggema di lokasi.

Kemenangan bukan hanya soal piagam atau uang pembinaan, melainkan tentang bagaimana manusia merayakan anugerah fisik yang diberikan Sang Pencipta dengan cara yang positif dan bermartabat.

Kehadiran Sang Penjaga Kedamaian

Di tengah gemuruh sorak-sorai, hadir sosok-sosok berseragam cokelat dengan senyum yang meneduhkan. Di bawah kendali Kapolsek Lalabata, AKP Asep Sibli, Polres Soppeng hadir bukan untuk mengawasi dengan kaku, melainkan menjadi “payung” yang memastikan setiap tetes keringat para atlet jatuh di tanah yang aman.

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., melihat kegiatan ini sebagai bentuk syukur atas potensi pemuda. Baginya, tugas kepolisian bukan hanya soal penegakan hukum, tapi juga memastikan ruang-ruang kreativitas masyarakat tetap terjaga kesuciannya dari gangguan kamtibmas.

“Kami melihat ada gairah yang luar biasa. Sportivitas adalah cerminan dari hati yang jujur. Kami di Polres Soppeng akan selalu mendukung langkah-langkah positif seperti ini, di mana bakat disalurkan dan silaturahmi dipererat,” ujar AKBP Aditya dengan nada yang sarat akan apresiasi.

Filosofi di Balik Meja Panco

Bagi penyelenggara, SMI Samudra, lomba ini adalah wadah. Sebuah “sajadah” bagi para atlet untuk mensyukuri kekuatan tubuh mereka. Dalam pandangan religius, kekuatan yang tidak diarahkan pada kebaikan adalah kesia-siaan. Maka, di sinilah kekuatan itu diuji untuk menghasilkan sportivitas, bukan kesombongan.

Pukul 15.20 WITA, acara berakhir. Namun, gema dari Lomba Panco Assiteddekeng ini tidak berhenti di situ. Puluhan atlet pulang membawa cerita, bukan hanya tentang siapa yang menang, tapi tentang betapa indahnya Bumi Latemmamala ketika keamanan, bakat, dan rasa kekeluargaan mengalir dalam satu nadi yang sama.

Sore itu di Soppeng, kita belajar satu hal: sekuat apa pun tangan manusia mencoba menjatuhkan lawan di atas meja, pada akhirnya, tangan-tangan itu pulalah yang akan saling menjabat erat dalam doa dan kedamaian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *