Teduh di Tengah Riuh Pasar: Wajah Kemanusiaan Pengamanan Ramadhan

EDITORIAL13 Dilihat

Oleh : Redaksi

Di sebuah sudut Pasar Sentral Cabenge, ketika mentari pagi menurunkan cahaya lembutnya ke atas hamparan buah dan sayur, ada pemandangan yang lebih bermakna daripada sekadar transaksi ekonomi: kehadiran aparat yang menjaga, bukan mengawasi dengan kecurigaan, melainkan dengan ketulusan pelayanan. Di sanalah keamanan menemukan wajahnya yang paling manusiawi.

Ramadhan selalu mengajarkan bahwa ketenteraman bukan hanya urusan hati, tetapi juga lingkungan. Ibadah yang khusyuk memerlukan suasana yang teduh; doa yang khidmat membutuhkan rasa aman. Maka ketika aparat kepolisian hadir di pasar, ruang publik paling jujur menggambarkan denyut kehidupan rakyat, mereka sesungguhnya sedang merawat nilai luhur: memastikan masyarakat dapat mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan dengan tenang, tanpa bayang-bayang keresahan.

Pengamanan yang dilakukan personel Polres Soppeng di pasar tradisional bukanlah sekadar rutinitas prosedural. Ia adalah perwujudan tanggung jawab moral, bahwa negara hadir hingga ke lorong-lorong kehidupan paling sederhana. Sapaan kepada pedagang, imbauan kepada pembeli, serta langkah kaki yang menyusuri lapak-lapak adalah bahasa pelayanan yang tak memerlukan pengeras suara, namun terdengar jelas di hati masyarakat.

Dalam perspektif religius, menjaga keamanan adalah bagian dari ibadah sosial. Islam menempatkan keamanan sebagai fondasi kemaslahatan; tanpa rasa aman, manusia sulit berbuat kebajikan. Karena itu, setiap upaya menjaga ketertiban sejatinya merupakan amal kolektif, ikhtiar bersama antara aparat dan masyarakat untuk menegakkan harmoni kehidupan. Ketika polisi mengingatkan warga agar menjaga barang bawaan dan waspada terhadap tindak kejahatan, itu bukan sekadar imbauan teknis, melainkan ajakan untuk saling menjaga amanah.

Kapolres Soppeng menegaskan komitmen peningkatan patroli di pusat keramaian selama Ramadhan. Sikap ini patut dipandang sebagai pesan moral: bahwa keamanan bukanlah proyek musiman, melainkan janji berkelanjutan. Kehadiran aparat di ruang publik bukan hanya menekan potensi gangguan kamtibmas, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya, modal sosial paling berharga dalam kehidupan bermasyarakat.

Editorial ini memandang, keamanan yang berwibawa bukanlah keamanan yang menakutkan, melainkan yang menenteramkan. Wibawa sejati lahir dari pelayanan, bukan dari jarak; dari kedekatan, bukan dari kekuasaan. Di pasar itu, di antara riuh suara tawar-menawar, terlihat bahwa tugas negara dan kehidupan rakyat dapat berjalan beriringan tanpa sekat.

Ramadhan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menumbuhkan kepedulian. Ketika aparat menjaga masyarakat, dan masyarakat mendukung aparat, di situlah tercipta simfoni sosial yang indah, sebuah harmoni yang mencerminkan nilai kemanusiaan, religiusitas, dan tanggung jawab bersama.

Pasar Cabenge pagi itu mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: keamanan bukan sekadar situasi tanpa gangguan, melainkan rasa tenteram yang dirasakan bersama. Dan selama rasa itu dijaga, Ramadhan akan selalu hadir sebagai musim keberkahan, bukan hanya di langit doa, tetapi juga di bumi kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *