Menyemai Komitmen di Meja Bundar: Upaya Menjaga Arus Kehidupan dari Sulawesi Selatan

SDA261 Dilihat

Foto: Dokumentasi BBWS PJ

SUNGGUMINASA – Udara di ruang Sekretariat TKPSDA BBWS Pompengan Jeneberang, Jalan Sirajuddin Rani, terasa lebih hangat dari biasanya pada Rabu pagi (11/2). Di balik deretan laptop yang terbuka dan tumpukan berkas agenda, ada sebuah tanggung jawab besar yang sedang dirumuskan: bagaimana memastikan setiap tetes air di Sulawesi Selatan tetap menjadi berkah bagi jutaan nyawa di sekitarnya.

Pertemuan itu bukan sekadar formalitas birokrasi. Ia adalah simpul koordinasi bagi empat wilayah sungai yang menjadi urat nadi kehidupan: WS Walanae-Cenranae, WS Jeneberang, WS Saddang, hingga WS Pompengan-Larona.

Aliran Data, Aliran Kehidupan

Rapat yang dipimpin oleh Ishak Amin Rusli, Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bappelitbanda Provinsi Sulawesi Selatan, ini membawa pesan penting tentang sinergi. Di tengah dinamika iklim yang kian tak menentu, ego sektoral harus luruh demi kepentingan masyarakat luas.

Salah satu poin yang menyentuh sisi fundamental adalah ajakan untuk menghidupkan kembali Sistem Informasi Hidrologi, Hidrometeorologi, dan Hidrogeologi (SIH3). Kepala BBWS Pompengan Jeneberang menekankan bahwa data bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan panduan untuk mengambil keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

“Data yang kita miliki harus diintegrasikan dengan komitmen bersama. Sebab, data inilah yang akan kita gunakan bersama untuk menjaga kedaulatan air kita,” ungkapnya dalam forum tersebut.

Lebih dari Sekadar Angka

Diskusi mengalir, mengevaluasi apa yang telah dicapai dan apa yang masih menjadi tantangan. Kehadiran para anggota tidak dilihat hanya sebagai absensi, melainkan sebagai bentuk kehadiran negara dalam mengelola sumber daya alamnya.

Bukan hanya soal teknis bendungan atau saluran irigasi, rapat ini juga menyoroti peran krusial Komisi Irigasi. Ada kesadaran bahwa setiap rekomendasi yang lahir di tahun sebelumnya harus dipastikan denyutnya di lapangan melalui monitoring dan evaluasi yang konsisten.

Ketika rapat berakhir, para peserta meninggalkan ruangan dengan membawa lebih dari sekadar jadwal sidang tahun 2026. Mereka membawa amanah untuk memastikan bahwa manajemen air di Sulawesi Selatan tetap berada pada jalur yang tepat—seimbang antara kebutuhan pembangunan dan pelestarian alam.

Di luar gedung, matahari Sungguminasa mulai meninggi, mengingatkan bahwa air yang dikelola hari ini adalah warisan bagi generasi yang akan datang.

Penulis: Musafir (Reporter)
Editor: Masykur Thahir (Kepala Dewan Redaksi)

Tulisan ini penulis terinspirasi dari postingan akun facebook BBWS PJ pada Rabu (11/2/2026)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *