Dari Ruang Monitoring, Menjaga Denyut Pangan Negeri

Keterangan Gambar:

Kepala Biro SDM Polda Sulsel Kombes Pol Adi Ferdian Saputra, S.I.K., M.H., bersama jajaran mengikuti Sosialisasi Program Ketahanan Pangan Gugus Tugas Mabes Polri di Ruang Monitoring Biro SDM Polda Sulsel, Kamis (29/1/2026). Kegiatan ini membahas strategi peningkatan produktivitas jagung sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional.

Penulis: Sabri
Editor: Alimuddin

Di balik angka-angka produksi dan peta target, ada kerja sunyi yang jarang disorot. Di sanalah Polri menanam harap—bukan hanya jagung, tetapi juga masa depan.

Pagi belum sepenuhnya meninggalkan Kota Makassar ketika ruang monitoring Biro SDM Polda Sulawesi Selatan mulai dipenuhi suara diskusi. Di ruangan itu, Kamis, 29 Januari 2026, sejumlah perwira Polri duduk mengelilingi meja panjang. Di hadapan mereka, layar-layar menampilkan data, grafik, dan peta wilayah. Yang dibicarakan bukan perkara keamanan semata, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: pangan.

Hari itu, Kepala Biro SDM Polda Sulsel, Kombes Pol Adi Ferdian Saputra, S.I.K., M.H., mengikuti Sosialisasi Program Ketahanan Pangan Gugus Tugas Mabes Polri, yang dipimpin Karobinkar SSDM Polri Brigjen Pol Langgeng Purnomor, S.I.K., M.H.

Sebuah pertemuan yang, di permukaan, tampak teknis. Namun sesungguhnya menyimpan makna strategis: bagaimana negara menjaga perut rakyatnya tetap terisi, di tengah tantangan iklim, ekonomi, dan dinamika global.

Ketahanan Pangan, Kerja yang Tak Boleh Riuh

Dalam paparannya, Brigjen Pol Langgeng Purnomor menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar proyek tahunan. Ia adalah kerja panjang, yang menuntut kesinambungan, disiplin, dan kesadaran kolektif.

Karena itu, Mabes Polri telah menerbitkan Surat Perintah pembentukan Gugus Tugas Ketahanan Pangan 2026, yang strukturnya menjangkau hingga tingkat Polda dan Polres. Di dalamnya terdapat peran yang rinci: mulai dari pengawas, pelaksana, hingga tim pengendali mutu dan pengelola data.

“Ini bukan pekerjaan satu orang. Ini kerja sistem,” ujarnya.

Di Sulawesi Selatan, target yang dipasang terbilang ambisius: 1.275.535 ton jagung sepanjang 2026. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan optimisme bahwa sektor pangan masih bisa tumbuh, jika dikelola dengan sungguh-sungguh.

Filosofi Akar yang Kuat

Kombes Pol Adi Ferdian Saputra menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada soliditas dari bawah.

“Kalau akarnya kuat, pohonnya akan tegak. Dan kalau pohonnya tegak, buahnya akan bermanfaat,” ujarnya, pelan namun tegas.

Baginya, ketahanan pangan bukan sekadar tugas struktural, melainkan bagian dari tanggung jawab moral aparat negara. Ia menegaskan bahwa keterlibatan Kapolres hingga jajaran terbawah menjadi kunci, sebab kerja pangan tak bisa diselesaikan hanya lewat rapat.

Ada kerja lapangan. Ada pendampingan. Ada ketekunan.

Tiga Klaster, Satu Ikhtiar

Mulai 1 Januari 2026, seluruh Polda dan Polres diwajibkan melakukan pelaporan harian luas tanam jagung melalui aplikasi Gugus Tugas Polri MKP. Sistem ini menjadi alat kontrol sekaligus peta jalan kebijakan.

Untuk mempercepat capaian, Polri membagi strategi ke dalam tiga klaster utama, masing-masing dengan target dan karakter wilayah berbeda. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kualitas, kuantitas, dan keberlanjutan produksi.

Lebih dari itu, program ini dirancang selaras dengan agenda nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadikan pangan sebagai fondasi kesejahteraan rakyat.

Ketika Tugas Menjadi Ibadah

Di ujung pemaparan, sebuah kalimat sederhana mengendap di ruang pertemuan:

“Apa yang kita beri dengan ikhlas, akan kembali dalam bentuk yang tak terduga.”

Kalimat itu seolah menjadi penegas makna dari seluruh agenda hari itu. Bahwa kerja ketahanan pangan bukan hanya urusan institusi, melainkan juga soal nilai.

Sejalan dengan itu, firman Allah SWT seakan menemukan relevansinya:

“Dan apa saja yang kamu infakkan, niscaya Allah akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.”
(QS. Saba: 39)

Dalam perspektif ini, menanam jagung bukan semata aktivitas ekonomi, melainkan ikhtiar kemanusiaan.

Menjaga Negeri dari Hal yang Paling Dasar

Rapat kemudian dilanjutkan dengan paparan penghubung Polri, Kementerian, Dircegah Kortas Tipikor Bareskrim Polri, serta pemaparan dari Polda Kalimantan Selatan. Semua mengarah pada satu simpulan: ketahanan pangan adalah kerja bersama.

Di ruang monitoring itu, tidak ada sorak-sorai. Tidak ada seremoni berlebihan. Yang ada hanya kesadaran bahwa menjaga pangan berarti menjaga bangsa.

Dan dari sana, perlahan, sebuah kerja sunyi kembali dimulai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *