Drama di Balik Fitnah: Siapa yang Menarik Tali Sandiwara?

OPINI304 Dilihat

Oleh : Alimuddin

Di sebuah negeri di mana kata-kata seringkali lebih tajam daripada belati, kebenaran kadang dipaksa bersembunyi di balik riuh rendah media sosial.

Senin malam itu, di bawah langit Soppeng yang muram, Andi Muh Farid berdiri bukan sekadar sebagai Ketua DPRD, melainkan sebagai seorang manusia yang sedang memunguti serpihan martabatnya yang coba dihancurkan oleh mesin fitnah.

Laporan polisi bernomor LP/B/09/I/2026 bukan sekadar prosedur hukum. Ia adalah sebuah perlawanan terhadap narasi fiktif yang disusun rapi dalam kegelapan.

Fragmen Kebohongan yang Rapuh

Tuduhan penganiayaan yang dilayangkan oleh Rusman, seorang abdi negara di BKPSDM, terasa seperti naskah drama yang ditulis dengan tergesa-gesa. Cerita tentang tendangan di perut dan kekerasan fisik, setelah dikuliti, tampak seperti gelembung sabun: indah saat terbang namun hancur saat menyentuh fakta.

Saldin Hidayat, sang kuasa hukum, berdiri tegak dengan logika yang dingin namun tajam. Baginya, tak ada kontak fisik, tak ada kekerasan. Yang ada hanyalah skenario yang dipaksakan.

Di titik ini, nurani kita bertanya: mungkinkah seorang Rusman berani mempertaruhkan jabatan dan kehormatannya hanya untuk sebuah kebohongan, jika tidak ada tangan-tangan tak terlihat yang sedang menarik tali senar di belakang punggungnya?

Tarian di Atas Luka Orang Lain

Siapakah yang berpesta saat nama Andi Muh Farid terpuruk? Di panggung politik, tidak ada kebetulan. Jatuhnya martabat seorang pemimpin adalah pupuk bagi ambisi mereka yang mengantre di balik bayang-bayang. Ada bau anyir kepentingan yang menyengat di balik laporan fiktif ini, sebuah upaya sistematis untuk meruntuhkan wibawa sebelum gelanggang sesungguhnya dimulai.

Mereka yang untung adalah mereka yang takut pada integritas. Mereka yang untung adalah para pengecut yang tak mampu bertarung gagasan, lalu memilih menggunakan “tangan sewaan” untuk melempar lumpur. Rusman mungkin hanyalah pion kecil dalam papan catur yang jauh lebih besar dan kejam.

Menunggu Fajar Keadilan

Hukum memang bicara soal bukti, tapi nurani bicara soal kebenaran yang tak bisa disembunyikan selamanya. Soppeng tidak butuh sandiwara murahan yang menguras energi publik. Bumi Latemmamala butuh kejujuran yang mengalir setulus mata airnya.

Kini, kita menanti ketegasan aparat hukum untuk bukan sekadar memeriksa laporan, tapi juga membongkar siapa sutradara di balik akting Rusman yang malang ini. Sebab, membiarkan fitnah tumbuh subur adalah cara tercepat membunuh kemanusiaan kita sendiri.

Di akhir malam, saat debu konflik ini mengendap, kebenaran akan menemukan jalannya pulang, dan mereka yang berbohong akan tertimbun oleh kata-katanya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *