Di Bawah Rindang Kedamaian: Ketika Dua Batang Mangga dan Nurani Memanggil Jalan Pulang

KAMTIBMAS37 Dilihat

Keterangan Gambar: Bhabinkamtibmas Kelurahan Lapajung dan Salokaraja, Aipda Ibrahim, bersama aparat kelurahan dan warga setempat berdiri di lokasi penebangan pohon saat proses mediasi dan penyelesaian perselisihan secara kekeluargaan di Jalan Pasar Sentral, Lapajung, Soppeng. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani

FEATURE PALAPA Kisah Kemanusiaan di Balik Fakta

Oleh: Andi Okkeng

SUARA PALAPA, SOPPENG – Bumi Latemmamala pagi itu merawat keheningan yang teduh. Di sudut Jalan Pasar Sentral, Kelurahan Lapajung, Kecamatan Lalabata, Soppeng, Selasa (13/10/2026), gemerisik dedaunan sempat tersirat duka. Dua batang pohon mangga yang mulanya tumbuh menaungi riwayat bertetangga, tumbang tanpa pesan, merenggut rimbun yang menjadi hak pemiliknya.

Penebangan tanpa izin itu tak sekadar merobohkan kayu, tetapi sempat menggetarkan tali persaudaraan. Gejolak rasa dan riak kekecewaan hadir mengisi ruang dada. Namun, perselisihan sejatinya bukanlah jurang yang tak bertepi jika nurani tetap dinyalakan.

Sekitar pukul 10.00 WITA, langkah keteduhan hadir menyapa. Bhabinkamtibmas Kelurahan Lapajung dan Salokaraja, Aipda Ibrahim, melangkah bersama aparat Kelurahan Lapajung. Mereka datang bukan membawa keangkuhan hukum yang kaku, melainkan membawa semangat silaturahmi untuk merajut kembali rajutan yang sempat koyak.

Di tempat sederhana itu, kedua belah pihak dipertemukan. Kata-kata dialirkan dengan kepala dingin, telinga dibuka untuk mendengar, dan hati dilapangkan untuk memaafkan. Bhabinkamtibmas menjadi jembatan rasa, mengiringi jalannya dialog hingga tercapai kesepakatan damai secara kekeluargaan, diiringi ketetapan ganti rugi sebesar Rp1.500.000. Sejumlah uang yang mungkin bernilai materi, namun nilai tertinggi dari segalanya adalah utuhnya kembali rasa persaudaraan.

Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat senantiasa diniatkan sebagai penyembuh luka sosial melalui pendekatan humanis dan musyawarah.

“Setiap permasalahan di tengah masyarakat hendaknya disikapi dengan kepala dingin dan diselesaikan melalui komunikasi yang baik. Kami mendorong personel Bhabinkamtibmas untuk hadir sebagai jembatan komunikasi, sehingga setiap pihak dapat menemukan solusi yang disepakati bersama tanpa memperkeruh keadaan,” tutur Kapolres penuh penekanan.

Beliau juga berpesan agar setiap insan senantiasa menghormati hak milik sesama dan mendahulukan tutur kata sebelum bertindak. Sebab dalam adat dan keagamaan, saling menghargai adalah pilar utama menjaga keharmonisan hidup bersama. Sinergi antara kepolisian, pemerintah kelurahan, dan warga menjadi bukti indah bahwa kedamaian dapat selalu dirawat.

Renungan: Pohon mangga yang tumbang mungkin tak akan pernah berdiri kembali menaungi tanah tempatnya tumbuh. Namun, ketulusan untuk saling memaafkan dan melapangkan dada adalah benih kebaikan yang baru saja ditanam di dalam jiwa. Sebab sesungguhnya, kemenangan sejati dalam hidup bukan saat kita berhasil mempertahankan ego, melainkan ketika kita mampu menundukkan amarah demi menjaga nyala silaturahmi.

Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *