Menjemput Berkah di Riuh Pasar Panincong: Kala Seragam Cokelat Menjaga Teduh Ramadhan

KAMTIBMAS140 Dilihat

Keterangan Gambar:

Wujud Kedekatan: Personel Polres Soppeng, Aiptu Suardi, saat berdialog hangat dengan salah seorang pedagang di Pasar Panincong, Senin (2/3). Kehadiran Polri di tengah pasar bertujuan memberikan rasa aman serta memastikan kekhusyukan masyarakat dalam beraktivitas di bulan suci Ramadhan. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)

SOPPENG – Matahari Senin pagi (2/3) belum lagi meninggi di ufuk Marioriawa, namun denyut nadi di Pasar Panincong sudah berdetak kencang. Di sela aroma rempah, tumpukan sandal baru, dan tawar-menawar yang riuh, terselip sebuah pemandangan yang menyejukkan. Di sana, di antara peluh para pedagang dan langkah tergesa pengunjung, hadir sosok berseragam cokelat dengan senyum yang tulus.

Bukan sekadar menjalankan tugas negara, kehadiran personel Polres Soppeng di tengah pasar pagi itu terasa seperti hembusan angin buritan yang menenangkan biduk aktivitas warga di bulan suci.

Sajadah Keamanan di Hamparan Dagangan.

Bagi seorang pedagang, pasar adalah tempat menjemput rezeki. Namun bagi polisi yang bertugas, pasar adalah “sajadah” tempat mereka mengabdi. Kanit Samapta yang memimpin patroli hari itu tampak telaten menyapa satu per satu warga. Tidak ada kesan kaku, yang ada hanyalah dialog humanis, sebuah seni berkomunikasi yang memanusiakan manusia.

Sembari merapikan arus kendaraan yang mulai menyemut, para petugas sesekali berhenti untuk sekadar mengingatkan pengunjung agar menjaga barang bawaannya.

“Ramadhan adalah bulan yang suci, mari kita jaga hati dan jaga kewaspadaan agar ibadah kita tak terganggu oleh rasa cemas,” tutur salah satu personel dengan lembut kepada seorang ibu yang sedang memilih keperluan dapur.

Harmoni Tugas dan Ibadah

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K., memandang bahwa pengamanan ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan bentuk ibadah untuk memastikan masyarakat bisa menjalankan puasa dengan khusyuk.

“Di bulan yang penuh ampunan ini, aktivitas ekonomi warga cenderung meningkat. Kehadiran kami adalah untuk memastikan bahwa setiap transaksi tak hanya membawa untung, tapi juga rasa aman. Kami ingin masyarakat merasa bahwa Polri hadir bukan sebagai pengawas yang ditakuti, melainkan sebagai saudara yang menjaga,” ungkap AKBP Aditya dengan nada filosofis.

Pesan Damai di Tengah Hiruk Pikuk

Di sudut lain pasar, Kanit Samapta terus bergerak. Imbauan kamtibmas disampaikan layaknya pesan dari seorang sahabat. Beliau mengingatkan tentang pentingnya toleransi, menjaga ketertiban parkir agar tak mendzalimi pengguna jalan lain, hingga pentingnya kejujuran dalam timbangan, sebuah pesan yang menyentuh sisi religiusitas para pedagang.

Hingga matahari mulai merangkak naik dan keramaian perlahan menyusut, situasi di Pasar Panincong tetap terjaga dalam harmoni. Tidak ada gesekan, tidak ada keresahan. Yang tertinggal hanyalah rasa syukur yang membuncah; bahwa di Kabupaten Soppeng, keamanan dan kenyamanan ibadah dijaga dengan hati, bukan sekadar dengan instruksi. (Chemank Farel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *