Keteladanan yang Tumbuh dari Kesederhanaan

OPINI129 Dilihat

Ilustrasi

Oleh: Alimuddin

Di tengah hiruk-pikuk dinamika politik dan pergantian kepemimpinan daerah, sosok pemimpin yang tetap membumi setelah purna jabatan adalah cermin langka yang patut direnungkan. Figur itu tampak pada diri H. A. Kaswadi Razak, tokoh masyarakat yang pernah menakhodai Kabupaten Soppeng selama dua periode dan sebelumnya dipercaya memimpin DPRD Kabupaten Soppeng selama tiga masa jabatan.

Buka puasa bersama yang digelarnya bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjelma ruang batin tempat masyarakat merasakan kembali makna kepemimpinan yang sesungguhnya: kedekatan, ketulusan, dan rasa memiliki. Ribuan warga yang datang bukan hanya memenuhi undangan, melainkan menghadiri panggilan hati, sebuah penghormatan yang tak bisa direkayasa oleh jabatan ataupun seremonial.

Kepemimpinan yang Tak Berakhir oleh Jabatan

Sejarah mencatat, banyak pemimpin meredup setelah masa tugas usai. Namun ada pula yang justru semakin bercahaya karena memilih tetap hadir di tengah masyarakat. Kaswadi Razak termasuk di antaranya. Kini ia lebih sering terlihat di kebun miliknya, mempekerjakan warga sekitar, sebuah bentuk pengabdian sunyi yang tak banyak disorot, tetapi berdampak nyata bagi kehidupan rakyat kecil.

Dalam perspektif moral sosial, tindakan itu mencerminkan hakikat kepemimpinan sejati: memberi manfaat, bukan sekadar memegang kuasa. Di sinilah nilai religius menemukan maknanya, bahwa amal terbaik bukan hanya yang tampak di panggung, melainkan yang tumbuh diam-diam namun menyejahterakan.

Silaturahmi sebagai Warisan Kepemimpinan

Ramadan selalu menghadirkan ruang refleksi. Silaturahmi yang terjalin di kediamannya menjadi simbol bahwa hubungan antara pemimpin dan rakyat tidak semestinya berakhir saat masa jabatan selesai. Kedekatan itu justru menjadi warisan sosial yang lebih bernilai daripada arsip kebijakan atau catatan administrasi.

Sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Soppeng, perannya kini berada pada ranah pembinaan dan penguatan kader. Namun lebih dari itu, masyarakat melihatnya sebagai figur peneduh, seseorang yang tetap hadir memberi teladan, bukan sekadar arahan.

Teladan yang Menghidupkan Harapan

Editorial ini memandang bahwa masyarakat sesungguhnya tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas, tetapi juga yang tulus. Ketika seorang tokoh tetap menyapa rakyatnya dengan senyum yang sama seperti saat menjabat, di situlah kepercayaan publik menemukan rumahnya.

Buka puasa bersama itu mungkin berakhir saat azan magrib usai. Namun pesan moralnya tinggal lama: bahwa kekuasaan bisa berganti, jabatan bisa selesai, tetapi ketulusan pelayanan akan selalu abadi di hati masyarakat.

Pada akhirnya, sejarah bukan hanya ditulis oleh kebijakan besar, melainkan juga oleh kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *