Menjaga Pasar, Menjaga Kehidupan

OPINI196 Dilihat

Keterangan Gambar:

PAM PASAR: Personel Polsek Marioriwawo melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas di kawasan Pasar Sentral Takalala, Kelurahan Tettikenrarae, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sabtu (31/1/2026).


Oleh: Syukur Mariorante Katalawala
(Dewan Redaksi Group Media Suara Palapa)


SOPPENG – Sabtu pagi, 31 Januari 2026, terlihat tertib. Polisi berjaga. Aktivitas jual beli berlangsung normal. Tidak ada gangguan berarti. Namun ketertiban di permukaan sering kali menutupi persoalan yang lebih dalam: distribusi pangan yang rapuh dan kebijakan daerah yang belum sepenuhnya menjangkau akar masalah.

Pengamanan pasar oleh Polsek Marioriwawo patut diapresiasi. Kehadiran aparat memberi rasa aman. Arus lalu lintas tertib. Potensi kejahatan diantisipasi. Peredaran uang palsu diwaspadai. Namun keamanan fisik pasar hanyalah satu sisi dari stabilitas. Sisi lainnya, yang kerap luput, adalah bagaimana barang sampai ke pasar dan bagaimana harga terbentuk.

Pasar rakyat tidak menentukan harga. Ia menerima akibat. Ketika distribusi tersendat, harga melonjak. Ketika pengawasan longgar, ruang spekulasi terbuka. Dalam situasi seperti ini, pedagang kecil dan konsumen menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya.

Pemantauan stok bahan pokok yang menunjukkan kondisi aman dan harga relatif stabil memang kabar baik. Tapi stabilitas semacam ini sering bersifat sementara. Tanpa kebijakan distribusi yang kuat dan pengawasan berkelanjutan dari pemerintah daerah, pasar hanya menunggu waktu untuk kembali bergejolak.

Di sinilah peran pemerintah daerah seharusnya lebih terasa. Bukan sekadar mencatat harga, tetapi memastikan rantai pasok berjalan wajar. Bukan hanya mengandalkan operasi pasar sesekali, tetapi membangun sistem distribusi yang adil dan transparan. Tanpa itu, stabilitas harga akan selalu bergantung pada situasi, bukan kebijakan.

Kearifan Bugis mengenal lempu (kejujuran). Dalam urusan pangan, lempu berarti harga yang masuk akal dan distribusi yang tidak dimanipulasi. Jika ada permainan di hulu, pasar di hilir pasti terguncang. Kejujuran sistemik tidak lahir dari imbauan moral, melainkan dari pengawasan yang tegas.

Ada pula getteng, keteguhan memegang prinsip. Prinsip ini semestinya tercermin dalam kebijakan daerah. Keteguhan untuk menertibkan jalur distribusi. Keteguhan untuk tidak membiarkan disparitas harga tanpa penjelasan. Keteguhan untuk berpihak pada pasar rakyat, bukan hanya pada angka statistik.

Kapolres Soppeng AKBP Aditya Pradana menyatakan bahwa pengamanan pasar akan dilakukan secara rutin sebagai langkah preventif. Pernyataan ini penting dalam konteks keamanan. Namun stabilitas pangan tidak bisa diserahkan hanya pada aparat keamanan. Ia menuntut kepemimpinan kebijakan.

Keberanian (warani), hari ini bukan sekadar hadir di lapangan. Keberanian sejati adalah keberanian pemerintah daerah membenahi distribusi, menertibkan tata niaga, dan memastikan pasar tidak terus-menerus menjadi korban dari sistem yang timpang.

Hingga siang hari, Pasar Sentral Takalala tetap aman. Aktivitas berjalan seperti biasa. Tapi pertanyaan mendasarnya tetap ada: sampai kapan pasar rakyat harus bertahan di tengah distribusi yang rapuh dan kebijakan yang reaktif?

Pasar memang perlu dijaga. Namun yang lebih mendesak adalah memastikan jalur distribusi diawasi dan kebijakan daerah benar-benar bekerja. Tanpa itu, ketertiban pasar hanya akan menjadi ketenangan sesaat, rapi di luar, rawan di dalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *