Ketua DPRD Kab. Soppeng, Andi Muhammad Farid (Foto: Dok. DPD Partai Golkar Kab. Soppeng)
Oleh: Alimuddin
Pemred Group Media Suara Palapa
Dalam politik, kebisingan sering disalahpahami sebagai keberanian. Semakin keras seseorang berbicara, semakin dianggap berani. Padahal, keberanian sejati kerap justru hadir dalam bentuk yang paling sunyi: menahan diri, tidak reaktif, dan tetap berjalan lurus di tengah badai opini. Di Soppeng hari ini, sikap itu tampak pada Andi Muhammad Farid, Ketua DPRD yang sedang berada di pusat pusaran perhatian publik.
Tekanan terhadap Andi bukan perkara kecil. Sorotan, kecurigaan, bahkan tudingan mengalir deras. Namun ia tidak membalasnya dengan retorika defensif. Ia memilih tetap bekerja. Tetap berada di ruang kebijakan, bukan di panggung sensasi. Ia mempraktikkan satu etika kekuasaan yang semakin langka: tidak mempersonalisasi mandat publik.
Di dunia politik lokal, ruang antara kepentingan pribadi dan tanggung jawab publik kerap kabur. Kritik sering dibaca sebagai serangan, perbedaan pendapat disalahartikan sebagai permusuhan. Andi justru mengambil jarak. Ia memisahkan luka pribadi dari kewajiban institusional. Itu bukan sikap pasif. Itu adalah disiplin kekuasaan.
Filsafat Stoik menyebutnya sebagai penguasaan diri—sebuah kebajikan yang lebih berat daripada sekadar menguasai orang lain. Seorang pemimpin diuji bukan pada saat dipuji, melainkan ketika ia dituduh. Di titik itulah karakter bekerja.
Andi mewarisi nama besar sekaligus beban ekspektasi. Ia sadar setiap langkahnya ditimbang, setiap diamnya ditafsirkan. Namun ia tidak menjadikan politik sebagai panggung pembelaan diri. Ia menjadikannya ruang kerja. Di tengah budaya politik yang kerap menjadikan emosi sebagai komoditas, ia justru memilih konsistensi sebagai bahasa.
Sikap itu terasa asing—dan karena itu terasa penting. Kita sedang hidup dalam iklim politik yang lebih menghargai kegaduhan ketimbang keteguhan. Lebih menyukai sensasi ketimbang substansi. Padahal, demokrasi tidak tumbuh dari suara paling keras, melainkan dari keputusan paling jujur.
Sunyi Andi Muhammad Farid bukan kekosongan. Ia adalah bentuk lain dari keberanian. Keberanian untuk tidak larut. Keberanian untuk tidak menjadikan diri sebagai pusat, melainkan mandat sebagai poros.
Dalam politik, itulah yang paling sulit—dan paling dibutuhkan.







