Emas di Balik Gurat Tangan Petani: Harmoni Panen Jagung di Bumi Maddukkelleng

Keterangan Gambar:

SINERGI PANGAN: Kapolres Wajo AKBP Muhammad Rosid Ridho (tengah bertopi caping) bersama jajaran TNI, Bulog, dan Pemerintah Kabupaten Wajo menunjukkan hasil panen jagung dalam acara Panen Raya Serentak di Kelurahan Maddukkelleng, Kecamatan Tempe, Kamis (8/1/2026). Kegiatan ini merupakan implementasi program Asta Cita untuk mewujudkan swasembada pangan nasional.


Laporan: Sabri


WAJO – Di bawah naungan langit Maddukkelleng yang membiru, hamparan jagung yang menguning tampak berkilau diterpa cahaya matahari siang. Bukan sekadar tanaman yang berdiri tegak, helai-helai daun kering yang bergesekan itu menyanyikan harmoni tentang harapan, kerja keras, dan cita-cita besar bangsa untuk berdaulat di atas tanahnya sendiri.

Kamis (8/1/2026), suasana di Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, terasa berbeda. Di antara barisan batang jagung yang siap petik, terlihat sinergi yang apik antara seragam cokelat kepolisian, hijau loreng TNI, dan kemeja sederhana para petani. Hari itu bukan sekadar seremoni, melainkan perayaan atas sebuah ikhtiar bertajuk Panen Raya Jagung Serentak Kuartal I Tahun 2026.

Menanam Harapan, Menuai Kedaulatan

Ketika tangan-tangan sigap mulai mematahkan tongkol jagung yang berisi penuh, ada pesan tersirat yang ingin disampaikan: keamanan sebuah bangsa tidak hanya dijaga dengan senjata, tetapi juga dengan ketersediaan pangan di atas meja makan rakyatnya.

Kapolres Wajo, AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K., yang hadir langsung di tengah lahan warga, tampak tak segan membaur. Baginya, setiap butir jagung yang dipanen hari ini adalah kepingan dari visi besar “Asta Cita” yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Polri tidak hanya hadir sebagai penjaga ketertiban, namun juga sebagai sahabat petani. Kami ingin memastikan bahwa setiap jengkal lahan produktif di Wajo mampu menyokong napas swasembada pangan nasional,” ujar AKBP Rosid dengan nada rendah namun penuh optimisme.

Sinergi di Balik Pagar Lahan

Keberhasilan panen raya ini tidak tumbuh dalam semalam. Ia adalah buah dari kolaborasi lintas sektoral yang intens. Di lokasi, terlihat kehadiran jajaran Perum Bulog, Dinas Pertanian, hingga personel Koramil 1406-01 Tempe yang bahu-membahu sejak masa tanam.

Melalui sambungan layar zoom meeting yang terhubung ke seluruh penjuru Nusantara, kegiatan di Wajo ini menjadi bagian dari denyut nadi nasional yang berdetak serentak. Pemanfaatan lahan-lahan produktif kini menjadi strategi kunci untuk memastikan bahwa tahun 2026 menjadi tonggak sejarah kemandirian pangan Indonesia.

Senyum Petani, Ekonomi yang Mandiri

Lebih dari sekadar angka statistik produksi, panen ini membawa misi kemanusiaan yang lebih dalam: kesejahteraan petani lokal. AKBP Rosid menekankan bahwa kegiatan ini harus memberikan multiplier effect atau dampak berganda bagi ekonomi kerakyatan.

“Saat petani tersenyum karena hasilnya melimpah dan pasarnya terjaga, di situlah ketahanan sosial kita terbentuk. Kami ingin ekonomi masyarakat lokal kuat, sehingga ketersediaan pangan berkelanjutan bukan lagi sekadar impian,” tambahnya.

Saat matahari mulai bergeser ke arah barat, karung-karung berisi “emas kuning” mulai terkumpul. Di balik debu lahan dan teriknya siang, ada rasa bangga yang menjalar. Di Kabupaten Wajo, Polri dan masyarakat telah membuktikan bahwa sinergi adalah pupuk terbaik untuk menumbuhkan masa depan yang lebih sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *