Di Bawah Sunyi, Kepemimpinan Itu Bekerja

KESEHATAN340 Dilihat

Oleh : Alimuddin (Pemred Suarapalapa.id)

Sebuah catatan tentang Kunjungan SiDokkes Polres Soppeng merawat seorang lansia terbaring lemah akibat penyakit yang ia derita. Dan penilaian seorang warga terhadap sosok AKBP Aditya Pradana, sang Kapolres yang memiliki tipe kepemimpinan ala Khalifah Umar Ibnu Khattab.

Ada kepemimpinan yang terasa dari jarak.
Ada pula yang hadir dalam diam, tanpa perlu disebut, tanpa perlu dipamerkan.

Di sebuah rumah sederhana di Jalan Salotungo, sunyi siang itu terasa lebih dalam dari biasanya. Seorang lansia terbaring lemah, tubuhnya rapuh oleh usia dan sakit. Nafasnya tak lagi panjang, seperti menyimpan lelah yang telah lama dipikul. Di ruangan itu, waktu seolah melambat, menunggu sesuatu datang.

Dan sesuatu itu datang.
Tanpa suara sirene.
Tanpa pengumuman.

Hanya beberapa orang berseragam yang melangkah masuk dengan tenang, membawa tas medis, dan lebih dari itu, membawa kepedulian.

Mereka menunduk. Memeriksa. Menenangkan. Tidak tergesa, tidak menggurui. Sebuah tindakan yang tampak sederhana, namun dalam kesederhanaan itulah makna kemanusiaan menemukan tempatnya.

Di balik kehadiran para petugas itu, ada kepemimpinan yang bekerja tanpa perlu disebut-sebut. Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, oleh banyak orang dikenal bukan sebagai sosok yang gemar tampil, melainkan sebagai pemimpin yang membiarkan empati berjalan lebih dulu.

Bagi sebagian warga, cara kepemimpinan itu mengingatkan pada kisah lama yang nyaris menjadi legenda.

Seperti kisah Umar bin Khattab, sang khalifah yang pada malam hari memilih berjalan sendiri, menyusuri lorong-lorong sunyi, mendengar keluhan rakyat tanpa pengawal. Hingga suatu malam ia mendapati sebuah keluarga kelaparan, lalu kembali esok paginya membawa gandum dan daging, memikulnya sendiri, tanpa ingin diketahui siapa pun.

Kisah itu terasa jauh. Namun bagi FAS Rachmat Kami, Ketua SMSI Kabupaten Soppeng, semangatnya justru terasa dekat.

“Apa yang dilakukan Kapolres Soppeng ini mengingatkan saya pada kepemimpinan Umar bin Khattab. Hadir tanpa pamrih, mendengar langsung, lalu bertindak. Bukan sekadar memerintah,” ujarnya saat ditemui di sekretariat SMSI, Kamis, 29 Januari 2026.

Menurutnya, tindakan aparat yang turun langsung menjenguk warga sakit bukan sekadar prosedur. Itu adalah cermin dari kepemimpinan yang melihat rakyat sebagai manusia, bukan angka.

Di rumah kecil itu, siang hari berangsur tenang. Infus terpasang. Nafas sang lansia mulai teratur. Keluarga yang semula cemas kini duduk lebih tenang, meski lelah belum sepenuhnya pergi.

Tak ada upacara. Tak ada dokumentasi berlebihan. Para petugas pamit sebagaimana mereka datang, diam-diam.

Namun yang mereka tinggalkan bukan sekadar bantuan medis. Ada rasa aman. Ada keyakinan bahwa di tengah kehidupan yang tak selalu ramah, masih ada pemimpin yang memilih turun ke bawah, bukan berdiri di atas.

Mungkin begitulah seharusnya kekuasaan bekerja.
Tidak selalu terlihat.
Tidak selalu terdengar.
Tetapi hadir ketika manusia paling membutuhkan.

Dan di Soppeng, pada hari itu, kepemimpinan menemukan wajahnya yang paling jujur:
datang, membantu, lalu pergi tanpa ingin dikenang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *