Di Atas Seng Masjid, Negara Hadir Tanpa Seremonial

SOPPENG33 Dilihat

Keterangan Foto:
Bripka Nasruddin, Bhabinkamtibmas Desa Citta, ikut memasang atap Masjid Nurul Jihad bersama warga. Tanpa seremoni, tanpa jarak, sebuah potret sunyi tentang kehadiran negara yang bekerja dari bawah.


Laporan: Syamsuddin Andy


Catatan Lapangan dari Desa Citta

SOPPENG – Pagi di Desa Citta datang perlahan. Langit belum sepenuhnya biru ketika suara kayu dipukul, seng digeser, dan langkah kaki beradu di atas rangka bangunan. Angin mengantar bau semen basah dan debu kayu. Di tempat itulah, di atas tubuh Masjid Nurul Jihad yang belum rampung, orang-orang berkumpul, bukan untuk seremoni, melainkan untuk bekerja.

Tak ada yang memimpin dengan suara lantang. Tak ada aba-aba. Mereka bergerak karena tahu apa yang harus dilakukan.

Seorang lelaki berseragam cokelat muda berdiri di antara mereka.

Namanya Bripka Nasruddin.

Ia tidak datang sebagai aparat. Pagi itu, ia datang sebagai orang kampung yang tahu arti gotong royong. Tangannya memegang seng, kakinya berpijak di rangka kayu, tubuhnya menyatu dengan irama kerja warga. Tak ada yang memanggilnya “Pak Polisi”. Ia dipanggil seperti yang lain: dengan nama.

Kerja Sunyi yang Tak Tercatat

Di banyak tempat, kehadiran negara sering terasa lewat baliho, pidato, atau patroli. Di Citta, negara hadir lewat keringat.

Tak ada kamera resmi. Tak ada dokumentasi seremonial. Yang ada hanya bunyi paku dipukul, suara napas yang tertahan di bawah terik matahari, dan sesekali tawa kecil saat seng hampir terlepas dari genggaman.

Seorang warga berhenti sejenak, memandang atap masjid yang mulai utuh.

“Kalau begini, rasanya masjid ini bukan cuma bangunan,” katanya pelan.
“Ini kerja hati.”

Kalimat itu menggantung di udara, seperti doa yang tak perlu diucap keras-keras.

Polisi yang Tidak Berdiri di Jarak Aman

Bripka Nasruddin tidak datang membawa perintah. Ia datang membawa waktu, sesuatu yang sering kali paling mahal bagi siapa pun yang berseragam.

Di sela kerja, ia ikut mendengar keluh kesah warga: soal hujan yang bocor, soal anak-anak mengaji, soal desa yang ingin tetap rukun. Ia tak mencatat. Ia hanya mendengar.

Di situlah, mungkin, makna kehadiran itu bekerja.

Kapolres Soppeng, AKBP Aditya Pradana, menyebut keterlibatan semacam ini sebagai bagian dari wajah Polri yang humanis. Tapi di lapangan, istilah itu tak terdengar penting. Yang penting: seorang aparat memilih turun, bukan berdiri di atas.

Masjid dan Rasa Percaya

Masjid Nurul Jihad sedang dibangun. Tapi yang sedang dirawat sebenarnya adalah sesuatu yang lebih rapuh: rasa percaya.

Di desa kecil seperti Citta, kepercayaan tak lahir dari pidato atau janji. Ia tumbuh dari kebersamaan yang diulang-ulang. Dari kerja yang dilakukan bersama, tanpa pamrih.

Di bawah atap yang kini mulai tersusun rapi, orang-orang kembali bekerja. Matahari makin tinggi. Keringat mengalir. Tapi tak seorang pun bergegas pulang.

Mungkin karena mereka tahu:
di tempat seperti ini, negara tidak perlu hadir dengan suara keras.
Cukup dengan tangan yang mau membantu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *