Belajar Tenang dari Andi Muhammad Farid

OPINI1261 Dilihat

Ketua DPRD Kab. Soppeng, Andi Muhammad Farid (Foto: Dok. DPRD Kab. Soppeng)

Oleh: Alimuddin
Pemred Group Media Suara Palapa

Dalam iklim demokrasi lokal yang semakin riuh, kadang kita lupa bahwa tidak semua kepemimpinan harus berbunyi keras. Ada pemimpin yang bekerja dengan suara lantang, ada pula yang memilih bekerja dengan ketenangan. Di Kabupaten Soppeng hari ini, publik sedang menyaksikan satu tipe kepemimpinan yang jarang dibicarakan: kepemimpinan yang tenang, sabar, dan konsisten. Sosok itu adalah Andi Muhammad Farid.

Ia bukan nama kecil. Andi Farid adalah politisi muda Partai Golkar Soppeng. Ia memimpin Angkatan Muda Partai Golkar (AMPI), menakhodai Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Soppeng, dan dalam Pemilu 2019, ia menjadi peraih suara terbanyak dari 30 anggota DPRD terpilih. Dalam rapat paripurna perdana DPRD kala itu, ia bahkan dipercaya memimpin sidang sebagai anggota termuda—sebuah simbol kepercayaan yang jarang diberikan kepada politisi muda.

Namun, kepemimpinan bukan hanya soal riwayat elektoral atau jabatan organisasi. Kepemimpinan sejati diuji ketika sorotan publik mengeras, ketika kritik berubah menjadi tekanan, dan ketika opini berkembang lebih cepat daripada fakta. Di fase inilah, Andi Farid memperlihatkan kualitas yang jarang: ia tidak reaktif.

Alih-alih sibuk membangun narasi pembelaan diri, ia memilih tetap bekerja. Tetap berada di ruang-ruang pengabdian, bukan di panggung kegaduhan. Ia seolah mengerti satu hal penting: mandat publik bukan alat untuk menjaga perasaan pribadi, melainkan amanah untuk menjaga kepentingan bersama.

Sikap ini mengingatkan kita pada satu prinsip klasik: penguasaan diri adalah bentuk tertinggi dari kepemimpinan. Tidak semua masalah harus dijawab dengan suara tinggi. Tidak semua tekanan harus direspons dengan perlawanan terbuka. Kadang, yang paling sulit justru adalah tetap tenang.

Di tengah budaya politik yang semakin gemar mempertontonkan emosi, ketenangan Andi Farid terasa kontras—dan justru karena itu terasa relevan. Ia memperlihatkan bahwa menjadi politisi muda tidak selalu identik dengan sikap impulsif. Ia menunjukkan bahwa keteguhan tidak selalu harus ditampilkan dengan kegaduhan.

Barangkali, inilah pelajaran terpenting yang bisa kita ambil hari ini: bahwa demokrasi membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu menahan diri, lebih banyak figur yang bekerja dalam sunyi, dan lebih banyak politisi yang memahami bahwa kekuasaan bukan untuk dibela, melainkan untuk dijaga.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa keras suara kita yang akan diingat, tetapi seberapa konsisten kita menjaga amanah yang telah diberikan rakyat..

Rabu (7/1/2026)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *