KETERANGAN GAMBAR:
SINERGI DEMI HARMONI WARGA: Camat Tempe Aldi Mulyadi (tengah, berbaju batik) saat berbicara mendampingi Kapolsek Tempe IPTU Irwan Taufik (kanan, berseragam Polri) dalam Rapat Koordinasi Harmonisasi Hubungan Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat di Aula Kantor Kecamatan Tempe, Sengkang, Kabupaten Wajo, Kamis (21/5/2026). Rapat strategis yang dihadiri oleh seluruh kepala lingkungan, imam kelurahan, dan Sekcam Tempe Andi Bau Salman (kiri) ini bertujuan memperkuat stabilitas kamtibmas melalui pendekatan partisipatif, sekaligus mengintegrasikan solusi penanganan kebersihan dan sampah di wilayah Kecamatan Tempe. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)
Oleh: Sabri
Sebuah kota yang maju tidak sekadar diukur dari megahnya infrastruktur fisik atau laju pertumbuhan ekonomi yang tertuang di atas kertas statistik. Esensi kemajuan sejati bertumpu pada fondasi yang jauh lebih subtil, namun fundamental: keharmonisan hubungan sosial dan rasa aman yang mengakar di sanubari warganya.
Refleksi inilah yang menyeruak kuat dalam Ruang Rapat Koordinasi di Aula Kantor Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, pada Kamis pagi, 21 Mei 2026. Di bawah spanduk bertajuk “Harmonisasi Hubungan Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat,” berkumpul para pemangku kebijakan struktural dan kultural.
Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan sebuah ikhtiar budaya untuk merajut kembali simpul-simpul kebersamaan di tengah dinamika urban yang kian kompleks.
Hadir di tengah forum, Kapolsek Tempe IPTU Irwan Taufik, bersama Camat Tempe Aldi Mulyadi dan Sekretaris Camat Andi Bau Salman. Namun, signifikansi pertemuan ini justru terletak pada kehadiran para kepala lingkungan dan imam kelurahan. Merekalah para “penjaga gawang” sosial yang bersentuhan langsung dengan denyut nadi dan dinamika harian akar rumput.
Dalam pemaparannya, IPTU Irwan Taufik membuka sebuah realitas numerik yang menggugah kesadaran kolektif. Saat ini, kekuatan personel Polsek Tempe tercatat hanya berjumlah 14 orang. Sebuah rasio yang tentu limpang jika dihadapkan pada luas wilayah dan padatnya populasi Kecamatan Tempe.
Kendati demikian, keterbatasan angka ini bukanlah alasan untuk menyerah pada keadaan. Sebaliknya, keterbatasan tersebut dilempar ke forum sebagai jembatan pembuka kesadaran bahwa keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) bukanlah produk instan dari aparat penegak hukum semata, melainkan buah dari kerja semesta.
“Kami harap bantuan kepala lingkungan dan imam lingkungan untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah masing-masing. Ini menjadi tanda sebuah kota akan maju. Jadikan Tempe aman dan kondusif,”* ujar IPTU Irwan Taufik menekankan arti penting kolaborasi.
Pernyataan tersebut menegaskan sebuah tesis jurnalistik: dalam lanskap sosiologis masyarakat modern, keamanan tidak lagi dipandang secara sentralistik melalui pendekatan kekuasaan (security approach), melainkan melalui pendekatan partisipatif (community policing). Imam kelurahan menjaga harmoni dari mimbar-mimbar spiritual, kepala lingkungan mengawal ketertiban dari pintu ke pintu warga, sementara kepolisian hadir sebagai pengayom struktural. Ketika ketiga instrumen ini bergerak dalam satu frekuensi, maka ketertiban akan tercipta secara organik.
Menariknya, dialog di meja koordinasi ini tidak mandek pada isu keamanan konvensional seperti kriminalitas. Forum secara cair melebar membedah persoalan lingkungan domestik yang krusial: kebersihan dan pengelolaan sampah. Ini adalah langkah visioner. Sampah, yang sering kali dianggap sebagai perkara sepele, sebetulnya merupakan hulu dari berbagai potensi konflik sosial dan penurunan kualitas hidup perkotaan.
Kota yang kotor mencerminkan abainya kepedulian kolektif, sedangkan kota yang bersih adalah indikator utama dari masyarakat yang sehat dan beradab.
Gayung bersambut, Camat Tempe Aldi Mulyadi mengamini paradigma tersebut. Baginya, pemerintah kecamatan meyakini bahwa penguatan koordinasi lintas sektor adalah kunci utama.
Menyelaraskan perspektif tokoh agama yang dihormati secara kultural dengan kepala lingkungan yang memegang otoritas lokal merupakan strategi jitu untuk menggerakkan kesadaran warga dalam mengelola kebersihan lingkungan.
Pada akhirnya, Rapat Koordinasi di Kecamatan Tempe hari itu menorehkan sebuah catatan penting bagi kita semua. Bahwa merawat sebuah kota membutuhkan ruang-ruang dialog yang inklusif. Di atas meja yang dihiasi bosara tradisional, simbol penghormatan dan keramahan khas Sulawesi Selatan, komitmen itu dideklarasikan ulang.
Keharmonisan, keamanan, dan kebersihan bukanlah tanggung jawab yang bisa dipetakan secara terpisah, melainkan satu kesatuan ekosistem yang harus dirawat bersama demi masa depan Tempe yang lebih maju, nyaman, dan bermartabat.






