Di Antara Senyum dan Doa Senja, Kapolres Wajo Menyapa Jalanan dengan Takjil dan Keteladanan

WAJO14 Dilihat

Keterangan Gambar:

Kapolres Wajo menyerahkan paket takjil kepada pengguna jalan saat aksi berbagi Ramadan di depan kantor Sat Lantas, Jalan Masjid Raya, Sengkang, Sabtu (28/2/2026), sebagai wujud pendekatan humanis Polri kepada masyarakat. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Wajo)

Reporter: Sabri

WAJO — Senja belum sepenuhnya turun ketika tangan-tangan itu saling menyambut di tepi jalan. Di antara deru kendaraan dan langit yang perlahan menguning, seorang perwira polisi berdiri tanpa jarak, menyodorkan bingkisan takjil dengan senyum yang tak dibuat-buat. Sore itu, Ramadan terasa lebih hangat di ruas Jalan Masjid Raya, Sengkang, bukan karena matahari, melainkan karena kepedulian yang turun langsung ke jalan.

Dipimpin Kapolres Wajo, , jajaran bersama membagikan paket berbuka kepada para pengendara, penarik bemor, pejalan kaki, hingga warga yang melintas di depan kantor , Sabtu sore (28/2/2026). Suasana sederhana itu menjelma menjadi potret kecil tentang makna pelayanan: hadir, menyapa, dan memberi.

Tak ada protokoler berjarak. Sang Kapolres tampak membungkuk ringan saat menyerahkan takjil, seolah ingin merendahkan pangkatnya di hadapan kemanusiaan. Bagi warga, kehadiran itu bukan sekadar seremoni, melainkan isyarat bahwa negara bisa terasa dekat, bahkan di tepian jalan yang ramai.

Menurutnya, Ramadan adalah waktu terbaik untuk meneguhkan kembali niat pengabdian. “Momentum ini mengingatkan kita bahwa tugas melayani bukan hanya soal aturan, tetapi juga soal hati,” tuturnya di sela kegiatan.

Namun pesan yang dibawa sore itu tidak berhenti pada bingkisan makanan. Di setiap sapaan, ia juga menyelipkan nasihat keselamatan berkendara, pengingat lembut bahwa menjaga nyawa adalah bentuk syukur paling nyata. Baginya, disiplin lalu lintas bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan tanggung jawab moral bersama warga .

Kepemimpinan yang menjejak tanah seperti ini membuat citra kepolisian terasa lebih manusiawi. Di bawah arahannya, pendekatan persuasif dan teladan personal menjadi bahasa kerja sehari-hari, membangun kepercayaan yang tak bisa dibeli oleh slogan.

Sore kian merunduk. Doa berbuka sebentar lagi berkumandang. Di jalan yang sama, takjil telah berpindah tangan, senyum telah berpindah rasa, dan harapan telah berpindah makna. Di sanalah, di antara lalu lintas dan langit Ramadan, pelayanan menemukan wujudnya yang paling sederhana, berbagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *