Suatu Berkas Kepedulian dalam Jerebu. (Foto: Dokumentasi Humas Polres Soppeng)
PALAPA MEDIA GROUP (PMG) Berani Bersikap, Tegas dalam Nurani
EDITORIAL PALAPA
Suara Nurani Redaksi
Menenun Nafas di Balik Tabir Kabut: Sebuah Panggilan Jiwa
Oleh: Redaksi Suara Palapa
SOPPENG — Di tengah bayang-bayang kelabu yang merayap perlahan dari arah hutan yang merintih kesakitan karena api, sesosok harapan muncul di sudut-sudut jalan Bumi Soppeng. Ketika nafas tersengal dan langit yang biasanya birunya kini buram terhalang jerebu, langkah-langkah itu datang, bukan untuk mengeluh, tetapi untuk bertindak. Di bawah terik yang sedikit demi sedikit meredup karena jilatan asap karhutla, sebuah aksi lahir dari rahim kepedulian.
Kamis pagi yang biasanya sunyi, 15 Oktober 2026, menjadi saksi bisu di mana Satuan Lalu Lintas Polres Soppeng mengubah jalan raya menjadi panggung kemanusiaan. Di bawah komando batin yang kuat dan dipimpin langsung oleh Kasat Lantas, IPTU Asdar, mereka tidak hanya mengayunkan tangan untuk mengatur lalu lintas, tetapi juga mengulurkan perlindungan dari partikel-partikel tak kasat mata yang mencoba mencuri kesehatan para musafir jalan. Masker demi masker dibagikan, bukan sekadar kain, tetapi menjadi tameng dari paparan debu dan partikel yang dibawa oleh angin yang berhembus kencang.
Di setiap hembusan angin yang kini terasa lebih berat, ada kesadaran mendalam bahwa setiap jiwa berhak atas udara yang bersih. Tindakan ini, dalam kesederhanaannya, mengajarkan kita tentang kerendahan hati untuk saling menjaga.
Melampaui rutinitas seragam, mereka menunjukkan bahwa di bawah jaket keselamatan itu berdenyut jantung yang penuh empati. Ini bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan sebuah ikhtiar untuk menjadi bagian dari solusi, untuk menunjukkan kepada setiap pengguna jalan—baik pengendara motor yang berpacu dengan waktu maupun pengemudi mobil yang mencari nafkah—bahwa mereka tidak sendirian menghadapi kabut ini.
Kepedulian ini selaras dengan ajaran bahwa menjaga kesehatan sesama adalah bagian dari pengabdian yang tulus. Dalam Al-Quran, kita diingatkan tentang pentingnya tidak merusak bumi dan menjaga kehidupan. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa “Tanda-tanda iman ada enam puluh lima, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan”. Maka, menjaga agar nafas masyarakat tak terganggu kabut asap adalah tingkat pengabdian yang lebih tinggi.
Kapolres Soppeng, AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., merangkum panggilan jiwa ini: “Kehadiran kami bukan hanya tentang menegakkan aturan, tetapi tentang berdiri di samping masyarakat dalam setiap kesulitan. Ketika kesehatan terancam, inilah wujud nyata ‘Polisi Bersama Masyarakat’. Kami hadir untuk memberikan ketenangan di tengah kekhawatiran, dan pembagian masker ini adalah sebait doa keselamatan yang kami wujudkan dalam tindakan.”
Dari balik masker yang terpasang, ada senyum terima kasih yang tak terucap, namun terasa jelas dalam setiap tarikan nafas yang lebih lega. Di sini, di tengah hiruk pikuk jalan raya yang sedang tak bersahabat, terjalin kembali benang merah persaudaraan antarmanusia. Kita melihat wajah-wajah tulus yang merindukan udara bersih, dan di saat yang sama, kita melihat wajah-wajah ikhlas yang siap berkorban demi sesama.
Perenungan ini membawa kita pada sebuah ajakan untuk lebih berhati-hati. Kabut asap ini bukan hanya tentang jarak pandang yang terbatas, tetapi juga tentang pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam yang telah Tuhan titipkan.
Kini, mari kita renungkan lebih dalam: Di setiap masker yang terpakai, ada harapan yang tersimpan. Harapan untuk hari esok yang lebih cerah, untuk langit Soppeng yang kembali biru. Tidakkah Tuhan menciptakan nafas sebagai salah satu nikmat yang paling agung? Maka, menjaga kesucian nafas sesama adalah sebuah ibadah yang tak ternilai. Kiranya, di tengah kabut yang mencoba memudarkan pandangan mata, biarlah nurani kita tetap jernih dan tak pernah padam.
Fakta Diberitakan. Manusia Dimuliakan. Nurani Dihidupkan.






