Oleh: Redaksi
Gema selawat kembali mengalun di langit Nusantara. Kerinduan pada bulan suci seakan menemukan jalannya pulang ke relung hati umat. Melalui Sidang Isbat yang dipimpin Menteri Agama, pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Keputusan ini bukan sekadar hasil kalkulasi astronomis atau ketetapan administratif. Ia adalah penanda dimulainya perjalanan ruhani kolektif bangsa, perjalanan menuju kejernihan jiwa, keteduhan batin, dan kedalaman makna hidup.
Keserempakan waktu yang diikuti Indonesia bersama sejumlah negara lain menghadirkan harmoni yang menenteramkan. Namun, di balik kesamaan itu, terdapat realitas yang tak kalah indah: adanya sebagian saudara seiman yang memulai ibadah lebih awal karena perbedaan metode penentuan awal bulan. Di sinilah kematangan spiritual dan kedewasaan sosial diuji. Perbedaan bukan retakan persaudaraan, melainkan cermin kekayaan khazanah ijtihad dalam tradisi Islam.
Negara telah memberi teladan dengan mengedepankan sikap terbuka dan menghormati keyakinan yang berlandaskan dalil. Ini menegaskan bahwa inti ibadah puasa bukanlah pada siapa yang lebih dahulu memulai, melainkan siapa yang lebih sungguh-sungguh memaknai. Ramadhan tidak menuntut keseragaman cara, tetapi menuntun kesatuan hati.
Bulan suci selalu datang sebagai guru yang sabar. Ia mengajarkan manusia menundukkan ego, meredam amarah, dan menajamkan empati. Lapar bukan sekadar rasa, melainkan bahasa sunyi yang menghubungkan yang berpunya dengan yang kekurangan. Dahaga bukan sekadar ujian fisik, melainkan jendela kesadaran bahwa hidup tak hanya tentang diri sendiri. Dari sanalah lahir kesalehan yang tidak berhenti di sajadah, tetapi mengalir ke ruang sosial.
Ramadhan tahun ini patut dijadikan momentum pembaruan dalam tiga lingkup sekaligus. Pertama, pembaruan personal, membersihkan hati dari prasangka dan kesombongan yang kerap tak disadari. Kedua, pembaruan institusional, menata kembali orientasi lembaga, organisasi, dan kepemimpinan agar sungguh berpihak pada kemaslahatan umat. Ketiga, pembaruan sosial, mengubah ritual menjadi energi nyata untuk memperkuat solidaritas, keadilan, dan kepedulian.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah madrasah sunyi yang mendidik manusia tanpa suara keras. Ia mengingatkan bahwa kemuliaan bukan diukur dari perbedaan yang dipertahankan, melainkan dari persatuan yang dirawat. Di bawah langit yang sama, umat diajak berjalan dengan langkah yang mungkin berbeda, tetapi menuju tujuan spiritual yang serupa: ridha Ilahi.
Keluarga besar Suarapalapa.id mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa 1 Ramadhan 1447 Hijriah. Semoga bulan yang mulia ini menjadi jalan pulang bagi hati yang lelah, cahaya bagi jiwa yang redup, serta berkah bagi bangsa dan seluruh umat manusia.
Marhaban ya Ramadhan.
