Oleh: Redaksi
Marhaban ya Ramadhan. Bulan yang selalu dinanti itu kembali mengetuk pintu jiwa umat Islam. Berdasarkan hisab yang dirilis oleh Muhammadiyah, 1 Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026, sementara pemerintah akan menetapkan tanggal resminya melalui sidang isbat. Apa pun hasilnya, kehadiran Ramadhan bukan sekadar soal awal puasa, melainkan tentang awal perubahan diri.
Ramadhan selalu datang sebagai pengingat: manusia bukan hanya makhluk rutinitas, tetapi makhluk perenungan. Di bulan inilah waktu seakan melambat agar hati sempat menilai ulang arah hidup. Rasulullah SAW mencontohkan kesiapan spiritual sejak Sya’ban, seakan memberi pesan bahwa ibadah bukan aktivitas musiman, melainkan perjalanan panjang menuju kedewasaan ruhani. Maka, Ramadhan sejatinya bukan beban kewajiban, melainkan undangan cinta dari Tuhan agar manusia kembali pulang kepada nilai-nilai terbaiknya.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan sering melelahkan batin, Ramadhan hadir sebagai ruang jeda. Puasa melatih disiplin, menumbuhkan empati, dan meredam ego. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa mampu kita menahan diri. Di situlah letak rahasia ketakwaan: kesadaran bahwa Tuhan selalu hadir bahkan ketika tak ada manusia yang melihat.
Lebih dari itu, Ramadhan adalah bulan rekonsiliasi, bukan hanya antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga antara manusia dengan sesamanya. Semangat berbagi, tradisi buka bersama, hingga gerakan sedekah kolektif menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih memelihara nilai gotong royong sebagai warisan luhur. Di tengah tekanan ekonomi global dan dinamika sosial, solidaritas menjadi energi moral yang menjaga bangsa tetap berdiri tegak.
Nilai rekonsiliasi itu pula yang patut bergema hingga ke ruang-ruang kepemimpinan daerah. Di Soppeng, misalnya, masyarakat tentu merindukan harmoni di antara para pemegang amanah publik. Ramadhan adalah saat paling tepat bagi para pemimpin, termasuk Bupati dan Ketua DPRD, untuk menurunkan tensi perbedaan, menjernihkan prasangka, dan meneguhkan kembali tujuan bersama: melayani rakyat. Persatuan di pucuk kepemimpinan akan menetes menjadi kesejukan di akar masyarakat. Sebaliknya, ketegangan elite hanya akan memperpanjang jarak antara harapan dan kenyataan.
Karena itu, makna puasa seharusnya tidak berhenti pada ritual personal. Ia harus menjelma menjadi etika sosial dan etika politik: menahan amarah, mengedepankan dialog, serta mengutamakan kemaslahatan bersama. Jika rakyat diminta menahan lapar dan dahaga, para pemimpin pun selayaknya menahan ego dan kepentingan sempit.
Akhirnya, Ramadhan adalah kesempatan tahunan yang tak pernah datang dua kali dengan jiwa yang sama. Ia akan berlalu, tetapi nilai-nilainya seharusnya menetap. Bila bulan ini benar-benar dihayati, ia mampu melahirkan pribadi yang lebih jernih, masyarakat yang lebih peduli, dan pemerintahan yang lebih bersatu.
Selamat menunaikan ibadah puasa 1447 H. Semoga Ramadhan tahun ini bukan hanya menyalakan lampu masjid, tetapi juga menyalakan cahaya di hati, dan di ruang-ruang kepemimpinan kita.
