Ketika Kapolsek Belawa Menyapa Pangan, Merawat Amanah, dan Menjaga Martabat Warga

KETAHANAN PANGAN199 Dilihat

Keterangan Foto:

Kapolsek Belawa IPTU Awal Syahrani saat melakukan pengecekan Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG) Desa Lautang, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, guna memastikan kebersihan, kelayakan pangan, serta kesiapan operasional demi kesehatan masyarakat, Senin (19/1/2026).


Laporan: Sabri


Pagi yang Sunyi, Sebuah Ikhtiar Dimulai

Pagi itu, Senin (19/1/2026), Desa Lautang masih berselimut sunyi. Cahaya matahari menyusup perlahan ke jendela Sentra Produksi Pangan Gizi (SPPG), seolah memberi restu atas kerja-kerja sunyi yang tengah berlangsung.

Di tempat itulah Kapolsek Belawa, IPTU Awal Syahrani, melangkah dengan tenang. Bukan sekadar menjalankan tugas rutin, melainkan memastikan bahwa setiap proses yang terjadi di dapur ini berjalan dalam koridor amanah dan tanggung jawab.

Dalam Islam, makanan bukan sekadar urusan perut. Ia adalah bagian dari ibadah.
Allah SWT berfirman:

“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.”
(QS. Al-Baqarah: 168)

Ayat itulah yang seolah menjadi napas dari setiap langkah peninjauan pagi itu.

Menjaga Pangan, Menjaga Amanah

IPTU Awal menelusuri setiap sudut ruang produksi, dari kebersihan peralatan, alur pengolahan, hingga kesiapan distribusi. Semua diperiksa dengan cermat.

Baginya, pangan yang bersih bukan hanya persoalan teknis, melainkan soal moral.

“Makanan yang baik lahir dari proses yang bersih dan niat yang lurus. Kalau pangannya bersih, insyaallah manfaatnya juga baik bagi yang mengonsumsi,” ujarnya.

Pesan itu sejalan dengan firman Allah SWT:

“Dan makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah.”
(QS. Al-Ma’idah: 88)

Sebuah pengingat bahwa kualitas pangan berkaitan langsung dengan keberkahan hidup.

Di Balik Dapur, Ada Tanggung Jawab Moral

Tak hanya menyoal kebersihan fisik, Kapolsek juga menyoroti tertib administrasi dan legalitas operasional SPPG. Baginya, keteraturan adalah bentuk tanggung jawab publik.

Dalam kearifan Bugis dikenal falsafah:
“Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase Dewata.”
(Hanya dengan kerja sungguh-sungguh, rahmat Tuhan akan turun).

Falsafah itu tercermin dalam upaya memastikan setiap proses berjalan sesuai aturan, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Menyapa Warga, Merawat Keamanan

Di sela-sela peninjauan, IPTU Awal berdialog dengan warga dan pengelola. Ia mengingatkan bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama, bukan semata tugas aparat.

“Kalau lingkungan aman, aktivitas berjalan lancar. Kalau kita saling peduli, maka kampung ini akan tetap tenteram,” ujarnya.

Pesan itu selaras dengan nilai siri’ na pacce, tentang menjaga harga diri dan kepedulian sosial sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dari Lautang, Harapan Itu Dijaga

Hingga kegiatan berakhir, situasi di SPPG Desa Lautang terpantau aman, tertib, dan siap beroperasi. Tidak ada kegaduhan, yang ada hanyalah kesungguhan menjaga amanah.

Dari dapur sederhana ini, harapan dirawat pelan-pelan:
tentang pangan yang bersih,
tentang kerja yang jujur,
tentang masyarakat yang sehat dan bermartabat.

Sebagaimana firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”
(QS. At-Taubah: 108)

Dan sebagaimana petuah Bugis:
“Taro ada taro gau.”
Apa yang diucapkan, itulah yang dikerjakan.