Keterangan Foto:
Seorang personel Polres Soppeng berdiri di tengah aktivitas Pasar Sentral. Dalam kesenyapan yang terjaga, hadir nilai siri’ dan tanggung jawab, negara menjaga tanpa menekan.
Oleh: Alimuddin
Ketua Dewan Penasehat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kab. Soppeng
Sebuah catatan kecil atas kehadiran Polres Soppeng di Pasar Sentral Watansoppeng, Kamis (29/1/2026)
Pagi datang seperti biasa di Pasar Sentral Soppeng, tanpa gegap gempita, tanpa aba-aba. Ia hadir bersama bau tanah yang masih basah, bunyi pisau yang beradu dengan talenan, dan langkah-langkah orang yang membawa harap dalam kantong kecilnya.
Di tempat seperti ini, hidup tidak ditulis dengan kata-kata besar.
Ia dijalani.
Saya berdiri di antara lapak-lapak, menyaksikan bagaimana orang-orang menjaga martabatnya sendiri: pedagang yang jujur menakar, pembeli yang sabar menawar, dan wajah-wajah yang lelah tapi tidak menyerah. Inilah pasar, ruang di mana siri’ bukan jargon, melainkan cara hidup.
Lalu saya melihat mereka.
Beberapa polisi melintas pelan, nyaris tak terdengar. Langkahnya ringan, sikapnya rendah. Tidak ada yang ditunjukkan selain kesediaan untuk hadir. Mereka tidak memecah keramaian. Mereka menjadi bagian darinya.
Pagi itu, Polres Soppeng hadir di Pasar Sentral.
Bukan sebagai kuasa, melainkan sebagai penjaga keseimbangan.
Siri’ yang Tidak Perlu Diumumkan
Dalam kearifan Bugis, siri’ bukan sekadar harga diri. Ia adalah batas paling dalam yang membuat manusia tahu kapan harus berdiri, kapan harus menunduk, kapan harus menahan diri.
Saya melihat siri’ itu hidup di pasar.
Seorang polisi menyapa pedagang tanpa nada tinggi. Seorang pedagang menjawab dengan senyum penuh hormat. Tidak ada jarak yang dipaksakan, tidak pula keakraban yang dibuat-buat. Semuanya berjalan pada tempatnya.
Di sinilah saya menyadari: kekuasaan yang tidak memahami siri’ akan mudah berubah menjadi tekanan. Tetapi kekuasaan yang mengerti siri’ akan tahu kapan harus diam.
Dan pagi itu, negara memilih untuk diam, dalam arti yang paling bijak.
Tentang Lempu dan Kejujuran yang Dijaga
Di sudut pasar, seorang ibu menimbang cabai. Tangannya cekatan. Timbangannya jujur. Tak ada yang berlebihan.
Saya teringat satu nilai Bugis yang lama hidup dalam diam: lempu, kejujuran yang tidak perlu diumumkan. Ia hadir dalam tindakan, bukan dalam ucapan.
Pengamanan pagi itu terasa seperti itu pula. Tidak berisik. Tidak berlebihan. Tapi nyata.
Para polisi tidak berdiri sebagai penguasa ruang, melainkan sebagai penyangga agar ruang tetap adil bagi semua. Mereka menjaga agar yang lemah tidak merasa sendiri, agar yang kuat tidak merasa boleh semaunya.
Tentang Warani yang Tak Berteriak
Keberanian, dalam budaya Bugis, bukan tentang suara keras atau langkah besar. Warani justru tampak pada kemampuan menahan diri, pada kesediaan berdiri ketika diperlukan, dan menyingkir ketika tak lagi dibutuhkan.
Saya melihat keberanian itu pagi itu.
Berani untuk tidak mencampuri. Berani untuk tidak mendominasi. Berani untuk percaya bahwa masyarakat bisa menjaga dirinya jika diberi ruang.
Mungkin inilah bentuk keberanian yang jarang dibicarakan.
Ketika Negara Belajar Rendah Hati
Menjelang siang, pasar mulai sepi. Terpal dilipat. Suara tawar-menawar mereda. Polisi masih ada, tapi nyaris tak terlihat.
Saya melangkah pergi dengan satu kesadaran kecil yang tertinggal:
bahwa negara tidak selalu harus hadir dengan suara keras.
Kadang, ia cukup hadir seperti doa, tak terdengar,
tak terlihat,
tapi terasa.
Dan di Pasar Sentral Watansoppeng, pagi itu, saya belajar bahwa menjaga bukan berarti menguasai. Bahwa kuasa yang paling bermartabat adalah yang sanggup berjalan seiring dengan nilai, bukan di atasnya.
Seperti orang Bugis berkata dalam diamnya:
“Resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase Dewata”.
“Hanya dengan kerja keras yang sungguh-sungguh, barulah rahmat Tuhan akan menyertai.”
Atau.
“Dengan ikhtiar tanpa lelah, rahmat Tuhan akan turun menyapa.”
Ungkapan ini merupakan falsafah hidup masyarakat Bugis yang menekankan pentingnya usaha, ketekunan, dan etos kerja, sebagai jalan untuk memperoleh berkah dan ridha Tuhan.
Watansoppeng, 29 Januari 2026
