Di Antara Pena, Nurani, dan Sunyi yang Panjang

OPINI387 Dilihat

FAS Rachmat Kami, S.Sos., berdiri di mimbar pelantikan, menyampaikan pesan kepemimpinan sebagai Ketua SMSI Soppeng 2026–2029. Di ruang yang hening itu, kata-kata tentang pers, nurani, dan tanggung jawab publik mengalir pelan—menjadi pengingat bahwa jurnalisme sejati lahir dari keberanian menjaga jarak dengan kuasa.


Oleh: Alimuddin
Pemred Suarapalapa.id


Ada satu hal yang sering luput ketika sebuah organisasi dilantik: sunyi di balik tepuk tangan. Padahal justru di sanalah makna bekerja paling pelan, dan paling jujur.

Rabu itu, 28 Januari 2026, di sebuah ruang pertemuan di Soppeng, para pengurus Serikat Media Siber Indonesia dilantik. Spanduk terbentang rapi. Kata-kata mengalir formal. Sumpah dibacakan dengan suara yang tenang. Semua berlangsung sebagaimana mestinya. Namun sesungguhnya, yang lebih penting bukanlah apa yang diucapkan, melainkan apa yang kelak diuji oleh waktu.

Pers, sejak lama, bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah sikap batin. Ia adalah pilihan untuk berdiri di tengah, tidak terlalu dekat dengan kekuasaan, tidak pula menjauh hingga kehilangan relevansi. Di sanalah ia sering merasa sepi.

Ketika Ketua SMSI Sulawesi Selatan berbicara tentang kemitraan antara pers dan pemerintah, saya teringat satu hal: kemitraan selalu rawan disalahartikan. Ia bisa berarti kerja sama yang sehat, atau justru kedekatan yang melunakkan jarak kritis. Di titik inilah pers diuji, apakah ia masih mampu berkata “tidak” ketika semua orang memilih diam.

Lalu datanglah istilah tua dari tanah Bugis: Siri’ na Pesse.

Siri’, bearti harga diri.
Pesse, berarti empati.

Dua kata yang tampak sederhana, tetapi menuntut laku yang tidak sederhana. Siri’, meminta jurnalis menjaga kehormatan profesinya, menolak kebohongan meski menguntungkan. Pesse, mengingatkan bahwa di balik setiap berita, ada manusia yang akan menerima dampaknya.

Dalam dunia yang kini bergerak dengan kecepatan algoritma, dua nilai itu terasa seperti berjalan melawan arus. Sebab hari ini, yang cepat lebih sering dihargai ketimbang yang benar. Yang viral lebih dicari ketimbang yang jujur.

Ketika Ketua SMSI Soppeng berkata bahwa pers tak perlu menjadi yang paling keras, melainkan yang paling jernih, ia seakan sedang mengingatkan sesuatu yang hampir kita lupakan: bahwa jurnalisme bukan lomba adu suara, melainkan latihan panjang tentang kejernihan berpikir.

Dan kejernihan, seperti kita tahu, lahir dari kesediaan untuk ragu.

Ragu sebelum menulis.
Ragu sebelum menghakimi.
Ragu sebelum mengunggah.

Di situlah martabat pers diuji.

Di negeri ini, pers kerap diminta menjadi banyak hal sekaligus: pengawas, penyampai pesan, penghibur, bahkan kadang penenang. Namun jarang yang bertanya: siapa yang menjaga pers itu sendiri?

Pelantikan SMSI di Soppeng mungkin hanya satu peristiwa kecil di antara banyak agenda organisasi. Tetapi ia menyimpan harapan yang tidak kecil: bahwa masih ada ruang bagi jurnalisme yang berjalan pelan, yang tidak tergesa, yang memilih setia pada nurani ketimbang tepuk tangan.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak mengingat siapa yang paling cepat memberitakan.
Ia hanya mengingat siapa yang tetap jujur ketika kebenaran terasa sunyi.

Dan di sanalah, pers seharusnya berdiri.

Watansoppeng, 28 Januari 2026