Keterangan Foto:
Potret Andi Muhammad Farid, Ketua DPRD Kabupaten Soppeng periode 2024–2029, sosok politisi muda yang dikenal ramah, religius, dan dekat dengan masyarakat. (Foto Dokumentasi DPD Partai Golkar Kab. Soppeng)
Penulis: Alimuddin
SOPPENG — Ada nama yang lahir bukan sekadar dari garis keturunan, melainkan dari doa-doa panjang yang dipanjatkan dalam sunyi. Andi Muhammad Farid, putra dari Andi Kaswadi Razak, menapaki jalan pengabdian dengan langkah yang terasa lirih, namun pasti, seperti ayat suci yang dibaca perlahan, tetapi meresap hingga ke relung jiwa.
Dari Tanah Kelahiran Menuju Panggung Amanah
Lahir di Kabupaten Soppeng pada 19 Mei 1998, Farid tumbuh dalam lingkungan yang mengenalkannya sejak dini pada makna tanggung jawab. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 3 Lemba, dilanjutkan ke SMP Nusantara dan Bosowa School Makassar, sebelum akhirnya menimba ilmu sosiologi di Universitas Hasanuddin hingga meraih gelar Sarjana Sosial.
Ilmu baginya bukan sekadar gelar, melainkan cahaya penuntun. Dalam keyakinan yang ia genggam, setiap pengetahuan adalah amanah Allah yang harus diamalkan demi kemaslahatan umat.
Jejak Organisasi: Madrasah Kepemimpinan
Sebelum menapaki dunia politik, Farid menempuh perjalanan panjang dalam organisasi. Ia pernah berkiprah di HIPMI Soppeng, AMPI, IOF Pengcab Soppeng, hingga memimpin AMPG Soppeng.
Bagi Farid, organisasi adalah madrasah kehidupan, tempat belajar tentang sabar, ikhlas, dan arti mendengar sebelum berbicara.
Mandat Rakyat di Usia Muda
Pada Pemilu 2024, kader Partai Golkar ini maju sebagai calon legislatif dari Daerah Pemilihan I Kecamatan Lalabata. Dukungan masyarakat mengalir seperti sungai yang menemukan muaranya. Ia pun terpilih menjadi anggota sekaligus dipercaya memimpin DPRD Kabupaten Soppeng periode 2024–2029.
Di usianya yang masih muda, amanah itu ia terima dengan kerendahan hati. “Jabatan adalah titipan, bukan tujuan,” demikian prinsip yang kerap ia sampaikan kepada kolega dan konstituennya.
Kolaborasi sebagai Jalan Ibadah Sosial
Farid meyakini bahwa pembangunan bukan sekadar proyek fisik, melainkan kerja bersama yang dilandasi niat tulus. Baginya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adalah bentuk ibadah sosial, mamal kolektif yang kelak dipertanggungjawabkan bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.
Ia menaruh perhatian besar pada generasi muda. Dalam pandangannya, masa depan daerah terletak pada tangan anak-anak muda yang berani bermimpi, namun tetap bersujud.
Doa yang Menyertai Langkah
Di balik karisma dan senyum ramahnya, ada keyakinan yang tak pernah goyah: bahwa setiap langkah telah dituliskan sejak sebelum manusia mengenal dunia. Maka baginya, memimpin bukan soal berdiri di depan, melainkan berjalan bersama, menjadi pelayan bagi rakyat, bukan sebaliknya.
