Menjaga Napas Danau Tempe: Ketika Rakyat, Wakilnya, dan Negara Bertemu di Meja Penyelamatan

SDA122 Dilihat

Keterangan Gambar:

Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi D DPRD Provinsi Sulawesi Selatan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang dan sejumlah perangkat daerah, yang membahas program penyelamatan Danau Tempe di Ruang Rapat Komisi D Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Sulsel, Senin (12/1/2025).


Penulis: Alimuddin


MAKASSAR – Danau Tempe tak sekadar hamparan air. Ia adalah napas kehidupan, cermin sejarah, dan pangkuan penghidupan ribuan keluarga di Wajo, Soppeng, dan Sidrap. Namun, riak tenangnya kini menyimpan keresahan panjang. Sedimentasi, banjir, dan perubahan siklus alam perlahan menggerus denyut kesejahteraan di sekelilingnya.

Atas kegelisahan itulah, Komisi D DPRD Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP), Senin, 12 Januari 2025, di Ruang Rapat Komisi D Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Provinsi Sulsel. Forum ini menjadi ruang temu antara aspirasi rakyat dan ikhtiar negara, demi satu tujuan: menyelamatkan Danau Tempe sebelum ia benar-benar kehilangan napasnya.

Dorongan Membentuk Tim Penyelamatan Prioritas Nasional

Dalam RDP tersebut, Komisi D DPRD Sulsel mendorong pembentukan Tim Penyelamatan Danau Prioritas Nasional Provinsi Sulawesi Selatan, sebagaimana amanat Perpres RI Nomor 60 Tahun 2021. Tim ini diharapkan menjadi simpul koordinasi lintas sektor, yang merajut peran pemerintah daerah dan pusat dalam satu gerak terpadu, berkelanjutan, dan berjangka panjang.

Langkah ini bukan sekadar administratif. Ia adalah upaya menyatukan harapan, kebijakan, dan tindakan nyata, agar Danau Tempe tidak sekadar diselamatkan di atas kertas, tetapi dipulihkan dalam realitas kehidupan masyarakatnya.

Delapan Sungai, Satu Jalan Keluar

Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, Dr. Heriantono Waluyadi, S.T., M.T., memaparkan fakta hidrologis yang menjadi akar persoalan.

Danau Tempe menerima aliran dari delapan sungai utama, namun hanya memiliki satu jalur keluar, yakni Sungai Cenranae menuju Teluk Bone. Ketimpangan ini membuat sedimentasi menumpuk, banjir kerap terjadi, dan ekosistem danau terus berada dalam tekanan.

“Penyelamatan Danau Tempe harus ditangani secara komprehensif, terintegrasi, dari hulu hingga hilir,” ujar Heriantono, menegaskan bahwa pemulihan tidak bisa parsial, apalagi setengah-setengah.

Jejak Pekerjaan Negara

Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS Pompengan Jeneberang telah mengerjakan sejumlah infrastruktur besar sebagai bagian dari ikhtiar penyelamatan Danau Tempe, antara lain:

Bendungan Kalola, Bendungan Ponre-Ponre, Bendung Gerak Tempe

Revitalisasi Danau Tempe di wilayah Wajo, Soppeng, dan Sidrap

Namun, berdasarkan master plan pengendalian sedimen, masih ada pekerjaan rumah besar yang menanti, seperti rencana pembangunan:

Bendungan Walimpong, Bendungan Lawo, Bendungan Torero, Bendungan Boya

Rangkaian infrastruktur ini diharapkan menjadi benteng alami untuk mengatur debit air, menahan sedimentasi, sekaligus mengembalikan harmoni siklus danau.

Saat Tradisi Petani dan Nelayan Mulai Hilang

Di balik grafik, peta, dan rencana kerja, ada cerita yang lebih lirih. Sejak Bendung Gerak Tempe mulai beroperasi pada September 2013, ritme hidup petani dan nelayan berubah drastis.

Jika dulu danau akan surut di musim kemarau, memberi ruang bagi petani menanam padi dan jagung, kini air nyaris tak pernah benar-benar turun. Sawah yang sudah menguning kerap kembali tenggelam. Gagal panen bukan lagi cerita langka, melainkan kenyataan berulang.

Nelayan pun merasakan dampaknya. Mahyuddin, nelayan asal Madining, Kelurahan Attangsalo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, menuturkan kegundahannya.

“Ikan cambang, yang dulu jadi primadona Danau Tempe, sekarang hampir tidak ada. Padahal telur ikan itu menetas saat danau surut dan terkena sinar matahari. Sekarang air tidak pernah surut lagi,” tuturnya lirih.

Danau yang dulu menjadi pangkuan kehidupan, kini seolah lupa memberi jeda bernapas bagi alam dan manusia.

Menyelamatkan Danau, Menjaga Masa Depan

RDP ini menjadi titik tolak penting. Ia bukan hanya tentang bendungan, saluran, dan regulasi, tetapi tentang menjaga masa depan ribuan keluarga yang menggantungkan hidup pada Danau Tempe.

Sebab menyelamatkan danau bukan sekadar merawat air. Ia adalah merawat ingatan, tradisi, dan pengharapan.
Dan di meja rapat itulah, harapan itu kembali dipertaruhkan, agar Danau Tempe tidak sekadar bertahan, tetapi kembali memberi kehidupan.

Nuansa tulisan ini disadur dari akun Facebook BBWS Pompengang Jeneberang yang diposting pada Senin (12/1/2026).