Meniti Jejak Isra Mikraj di Bumi Pitumpanua

KAMTIBMAS56 Dilihat

Laporan: Sabri


Ketika Doa, Teladan Rasul, dan Kehadiran Polisi Menyatu dalam Kesyahduan Iman

Di antara barisan jamaah, tampak sosok berseragam cokelat khaki berdiri bersahaja. Kapolsek Pitumpanua, AKP Andi Suhidin, hadir bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan menyatu sebagai bagian dari umat yang merindukan keteladanan Rasulullah SAW.

Doa, Dakwah, dan Kehangatan Kebersamaan

Acara yang dimulai sejak pukul 13.30 Wita itu berlangsung khidmat. Tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar memenuhi masjid dengan wajah-wajah penuh ketenangan. Mereka larut dalam tausiah yang mengingatkan kembali makna perjalanan agung Rasulullah SAW, perjalanan spiritual yang sarat nilai keimanan, keikhlasan, dan keteguhan akhlak.

Kapolsek Pitumpanua tampak duduk berdampingan dengan masyarakat, didampingi personel Polsek Pitumpanua, Aiptu Ruswandi. Kehadiran aparat kepolisian di tengah majelis keagamaan itu memberi kesan hangat: bahwa keamanan dan ketenteraman lahir dari kebersamaan, bukan jarak.

Meneladani Rasul dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam sambutannya, AKP Andi Suhidin menegaskan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa historis, melainkan cermin untuk menata diri dan kehidupan bermasyarakat.

“Isra Mikraj mengajarkan kita tentang ketaatan, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itulah yang harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, keteladanan Rasulullah SAW dalam menjaga persatuan dan kedamaian menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis.

Polri Hadir, Mengayomi dengan Hati

Lebih dari sekadar tugas pengamanan, kehadiran Polsek Pitumpanua dalam kegiatan keagamaan menjadi wujud nyata pendekatan humanis Polri. Bagi AKP Andi Suhidin, kedekatan emosional dengan warga adalah kunci menjaga stabilitas kamtibmas.

“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa Polri selalu ada, bukan hanya saat terjadi masalah, tetapi juga dalam momen-momen spiritual seperti ini,” tuturnya.

Ia berharap, sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat terus terjalin erat demi terciptanya suasana aman, damai, dan penuh toleransi di wilayah Pitumpanua.

Doa Penutup untuk Kedamaian

Acara ditutup dengan doa bersama. Tangan-tangan terangkat, harap terucap dalam hening. Doa untuk keselamatan, persatuan, dan keberkahan bagi seluruh masyarakat Pitumpanua mengalir khusyuk, seolah menjadi penanda bahwa harmoni sosial berawal dari hati yang bersih.

Di Masjid Nurul Ihsan sore itu, Isra Mikraj bukan sekadar peringatan. Ia menjelma menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur Rasulullah SAW masih hidup, dalam doa, dalam kebersamaan, dan dalam langkah-langkah kecil yang menjaga kedamaian negeri.